Wednesday, December 23, 2009

Pertapa yang Memetik Bintang

Alkisah pada suatu masa hiduplah seorang pertapa. Tapi jangan kau anggap bahwa pertapa itu selalu digambarkan sebagai lelaki tua keriput yang berjalan tertatih-tatih sambil bertumpu pada sebatang kayu lapuk. Bayangkan seorang anak laki-laki yang masih muda, bersih, dan meskipun tidak terlalu tampan, tetapi wajahnya menggambarkan kepandaian yang mungkin tak akan kau temukan di tempat lain. Anak yang masih terlihat bersemangat saat pagi hari kau melihatnya bermandikan cahaya matahari. Jika kau bisa membayangkan itu, maka kau sudah mengerti apa yang aku maksudkan.

Kisah ini dimulai saat sang pertapa masih berusia amat belia. Di duniamu, mungkin masih berusia seumur jagung, sangat muda. Dia selalu suka bermain, berlarian kesana-kemari, melompat, terjatuh, berguling, dan bahkan berkubang diantara genangan-genangan air berlumpur diantara semak-semak. Dan kemudian cerita ini mulai berlanjut.

Beberapa tahun kemudian, sang pertapa mulai menginjak masa remaja. Wajahnya mulai mengeras. Pipinya mulai terlihat berkotak-kotak. Tubuhnya meninggi, tangannya pun mulai memperlihatkan otot-otot yang lebih dewasa.

Kau mungkin sempat terbersit dalam pikiranmu, mengapa dia tidak bersama dengan anak-anak atau remaja lain seusianya? Apakah dia tidak suka bergaul? Atau dijauhi oleh teman-temannya?

Tidak. Dia tidak lakukan itu semua. Dan teman-temannya pun tidak melakukan itu semua. Karena dalam dunia sang pertapa, dia hanya sendirian. Tidak ada orang lain dalam dunia itu. Pohon-pohon rimbun tumbuh disekitar sang pertapa. Burung-burung berkicau menyambut pagi, setiap kali matahari terbit di ujung timur. Tapi dia hanya sendirian. Tak ada satu orangpun yang ada selain sang pertapa dalam dunia itu. Dan meskipun dia menyadarinya, dia tidak mengeluh, bahkan dia merasa kebaikan dunia semua berada di pihaknya. Tidak ada sesuatupun yang bernama keburukan tinggal di dunia itu. Itulah sebabnya sang pertapa selalu tersenyum. Selalu merasa bahagia, dengan semua yang ada yang dia miliki. Paling tidak, sampai cerita ini mulai berlanjut kembali.

Itulah pada suatu saat, ketika ia sedang duduk sendiri diatas bukit rendah tempat dia biasa merenung. Suasana yang gelap, dan kau pasti tau saat itu hari sudah malam. Bulan bercahaya temaram, memantulkan kembali cahaya siang yang didapatnya sehari sebelumnya. Redup, tapi membuat hatimu merasa bahagia saat bermandikan cahayanya.

Dia menunggu di puncak bukit itu sambil berbaring. Menunggu akan datangnya hari esok, sama seperti hari-hari sebelumnya dia menunggu hari-hari yang akan datang di keesokan harinya. Sama seperti dia di malam-malam sebelumnya menunggu datangnya fajar di penghujung malam itu. Dia menunggu, dan menunggu. Tidak ada rasa bosannya untuk terus menunggu seperti itu. Baginya malam itu dan malam-malam sebelumnya, serta malam-malam berikutnya adalah malam yang terindah dalam hidupnya. Berbaring diatas rumput yang sejuk dan empuk, menatap langit bertabur bintang di atas kepalanya. Lalu kemudian dia berpikir, alangkah indahnya bintang-bintang itu. Dan dia berpikir lagi, bahwa bintang-bintang itu begitu indah, dan dia ingin memilikinya. Mungkin satu saja. Atau mungkin dua. Atau tiga. Atau empat. Atau banyak, seraup saja dengan beberapa bintang. Atau semuanya saja sekaligus. Atau satu saja, dan setelah ia puas bermain-main dengan bintang itu, dia akan lemparkan si bintang kembali ke langit, dan diambilnya satu lagi untuk bermain-main dengannya. Begitu banyak pikiran yang muncul dikepalanya. Begitu banyak ide dan imajinasinya bermain bersama bintang-bintang itu.

Dan disitulah dia. Satu bintang yang mampu menarik perhatiannya. Entah kenapa perasannya tertuju pada satu bintang itu. Begitu banyak bintang yang bertaburan, bintang-bintang yang indah, cemerlang, berwarna-warni, bersiul, bernyanyi dengan suara yang merdu, begitru merdu sampai kau tidak akan mau mendengar suar lainnya ditelingamu. Tapi persaannya tertuju pada satu bintang yang kecil itu. Sebuah bintang yang kusam, tidak menarik perhatian, bahkan cahayanya pun redup tidak menerangi sekitarnya. Untuk sesaat dia merasa ragu, apakah benar inilah bintang yang dia inginkan untuk bermain bersamanya, tapi saat itulah mulutnya berbicara, “Wahai bintang, maukah kau turun dan bermain bersamaku?”. Dan dengan wajah sedikit terkejut dia mendengar sang bintang menjawab, “Ya, aku mau bermain bersamamu”. Dan si bintang kecil pun turun perlahan mendekati sang pertapa, dan dia meraih bintang kecil yang kusam itu dengan tangannya yang lembut. Dia sentuh dengan halus, perlahan bagai menyentuh selapis embun yang harus dijaga agar tidak pecah.

Perlahan dia memegang si bintang kecil itu ditangannya. Kembali rasa ragu membayangi pikirannya, rasa sesal menyambangi setiap detik berikutnya, tapi pada saat yang sama, dia merasakan, bahwa si bintang kecil yang kusam itu membawa hatinya pada rasa tenang yang amat sangat. Ada kehangatan yang memancar dari cahaya yang redup itu. Meskipun hanya bintang kecil yang kusam, tapi kehangatan dan ketenangan yang dibawanya membuat sang pertapa merasa yakin, itulah bintang yang baik untuk diajaknya bermain.
Dan sang pertapa pun mulai bermain dengan si bintang kecil yang kusam itu. Seringkali keeragu-raguannya kembali dan membayangi pikiranya. Tapi saat itu pula kehangatan si bintang kecil menyelimutinya dan keraguan itupun hilang tersapu dengan ketenangan si bintang kecil.

Dan waktu pun berlalu. Bergulir seperti bola salju di lereng bukit. Sang pertapa tetap menyukai permainan-permainan yang dimainkannya bersam si bintang kecil. Dan meskipun ada waktu-waktu dimana salah satunya merasa bosan dengan satu permainan, mereka akan beristirahat. Sejenak saja, sebelum mereka memulai kembali dengan permainan yang baru, atau mungkin hanya melanjutkan dari permainan yang mereka mainkan sebelumnya. Sampai sang pertapa mulai menjadi lebih dewasa, dan bintang kecil yang kusam itu tetaplah menjadi bintang kecil yang kusam, namun masih penuh dengan kehangatan dan kenyamanan yang diberikannya untuk sang pertapa.

Hingga suatu saat datang waktunya rasa bosan menyelimuti sang pertapa. Tapi mungkin lebih tepat disebut sebagai rasa lelah, karena dia terus bermain dengan si bintang kecil selama sekian waktu lamanya. Dan sang pertapa merasa ingin mencoba sebuah permainan baru, meskipun belum terpikir olehnya permainan seperti apa yang hendak dimainkannya. Ini terjadi pada suatu malam yang sama seperti malam saat dia bertanya kepada bintang kecil yang kusam, apakah dia mau bermain dengannya. Sama seperti malam-malam sebelumnya, dan sama seperti malam-malam lain sesudahnya. Sama seperti saat dia berbaring menatap langit bertabur bintang yang indah, tapi kali ini dengan sebuah bintang kecil yang kusam ditangannya, yang memancarkan rasa hangat dan nyaman, meskipun si bintang kecil tidak tahu apa yang dipikirkan sang pertapa. Yang dia tahu hanyalah untuk bermain dengan sang pertapa dan memberikan kehangatannya untuk sang pertapa.

Sang pertapa melihat sebuah bintang baru yang besar dan bercahaya cemerlang di satu sisi langit.

Ketika melihat bintang itu, sang pertapa terkesima. Terpesona oleh indahnya si bintang besar yang bercahaya. Lalu dia melihat ke sekeliling bintang itu.

Masih banyak bintang lain yang bertaburan disana. Masih sama speri yang dahulu pernah dilihatnya sebelum dia bermain dengan si bintang kecil yang kusam itu. Bintang-bintang yang lain masih memancarkan cahaya yang berwarna-warni. Masih pula melantunkan suara merdunya dengan indah. Tetapi bintang besar yang bercahaya itu mampu menarik perhatiannya. Cahayanya memberi keceriaan pada bintang-bintang lain disekitarnya. Cahayanya membawa canda tawa dan senyum kebahagiaan bagi langit dan nukit-bukit. Cahanya mempu membuat penasaran hati sang pertapa untuk meraihnya.

“Oh, indahnya bintang itu”, pikir sang pertapa. “Cahayanya bahkan membuat hatiku terasa riang, dan persaanku menari-nari bagaikan daun-daun dihembus angin musim gugur. Dan lihat cahayanya itu, oh, betapa cemerlangnya, betapa bahagianya andaikan aku bisa bermain bersamanya, menari bersamanya, serta menerangi kehidupanku dengan bermandikan cahaya yang cemerlang itu”. Dan dia terus terkesima, bergeming menatap kilauan cahaya si bintang besar yang cemerlang.

Tapi sejenak kemudian sang pertapa mulai menyadari sesuatu. Dia tidak mengenal si bintang besar yang cemerlang itu. Dia hanya melihat bahwa bintang itu begitu indah, begitu cemerlangnya sehingga membuat sang pertapa selalu merasa ceria, bahkan bangga jika bisa bermain dengannya. Tapi dia tidak tahu apakah bintang itu baik untuknya, atau tidak. Apakah bintang itu akan menghangatkannya, atau tidak. Apakah dia akan terus bertahan sebagai bintang besar yang cemerlang, atau tidak. Apakah dia dapat membahagiakan sang pertapa, atau tidak. Ketidakpastian yang membuat sang pertapa ragu-ragu untuk mengajaknya turun untuk bermain bersamanya.

Ditengah-tengah keraguan itu, tiba-tiba terdengar suara bumi yang membisikkan suaranya pada sang pertapa, “tidak apa-apa, ajaklah dia bermain. Biarkan dia bermain bersamamu di atas rumput yang kau injak ini. Aku juga ingin melihat dia bahagia. Aku yakin dia akan bahagia untuk bermain bersamamu. Kau punya dua tangan, dan kau punya hati yang cukup untuk semuanya. Panggillah si bintang besar itu. Aku ingin lihat dia bahagia, sungguh. Aku ingin lihat dia bahagia bersamamu, aku ingin”. Dan bumi pun membisikkan hal yang sama pada si bintang besar, tapi hanya berakhir dengan senyuman si bintang besar yang cemerlang.

Sang pertapa pun tersenyum. Sungguh hatinya ingin bermain dengan si bintang besar itu. Bermain dengan bintang, adalah yang selalu diinginkannya selama ini. Tapi hatinya kini diliputi rasa ragu. Kemudian ia melihat bintang kecil yang kusam ditangannya.
Bintang kecil itu masih sama seperti dulu. Kecil, kusam, namun cahaya kusamnya memberikan kehangatan yang sangat dalam. Dia masih melihat bahwa bintang kecil itu masih ingin bermain dengannya. Keceriaan di wajah bintang kusamnya tetap terlihat walaupun selelah apapun mereka bermain. Kehangatannya masih terasa, bahkan saat setelah sekian lama mereka bersama.

Lalu sang pertapa kembali berpikir,”Apakah mungkin kupanggil saja bintang besar itu? Atau mungkinkah aku lempar lagi bintang kecil ini kembali ke langit untuk bersama dengan kawan-kawannya yang lain? Tapi dengan demikian aku akan kehilangan kehangatan yang selama ini aku dapatkan, digantikan dengan cahaya cemerlang si bintang besar itu. Tapi, apakah bintang besar itu mampu memberikanku kehangatan yang sama seperti yang diberikan si bintang kecil itu untukku? Apakah mungkin si bintang besar itu ternyata hanya memilki cahaya yang cemerlang saja, padahal mungkin dirinya sedingin salju musim dingin? Atau mungkinkah kuajak mereka bermain saja bersamaku? Tapi dengan demikian, apakah si bintang kecil tidak akan merasa malu karena cahayanya kusam dan redup dibandingkan si bintang besar itu? Atau apakah si bintang besar itu yang akan merasa malu jika tidak mampu memberikan kehangatan seperti yang diberikan bintang kecil itu untukku? Atau mungkin malah si bintang kecil yang kan merasa kesal sehingga dia membakar tanganku sebagai balasan atas keinginanku memetik bintang lain? Atau malah mungkin, mungkin malah diriku yang tidak mampu membawa mereka semua manjadi teman bermainku sehingga malah menyusahkan diriku sendiri?”

Dan sang pertapapun hanya bisa berbaring diatas rumput sejuk dan lembut itu, dengan mata yang masih terpesona oleh si bintang besar yang cemerlang, dia hanya bisa berbaring, dalam keragu-raguannya menggapaikan tangannya ke langit, ingin menyentuh bintang besar yang cemerlang itu, tapi lidahnya tak bisa mengajak si bintang besar untuk bermain, karena hatinya masih merasakan kehangatan si bintang kecil yang kusam itu.

Jakarta, Desember 2009, untuk E yang aku cintai selalu