Sunday, December 27, 2015

Detailing

Haaa.. Selamat datang. 

Kali ini saya berpikir kenapa gak mencoba sekali waktu mencoba font yg berbeda. And i turn out to like this font. VERDANA. Like it lah. 

Beberapa hari yang lalu saya membaca sesuatu yang sangat menggelitik pikiran saya. Atau mungkin lebih tepat nya, memancing kekesalan saya akan sesuatu yg ditulis itu. Tulisan yg memancing kekesalan, salah satu sebab nya karena dibuat oleh org yang dekat dengan saya (well, mungkin gak dekat2 banget tapi kenal lah). Dan karena hal itulah, kekesalan saya terasa cukup membuat kepala saya pusing. Tapi itulah mungkin yang disebut hidup bersosialiasi. Banyak macam orang di dunia ini. 5 milyar orang, pastilah ada beberapa yang bisa bikin kesal. 

Semula bermula dari sebuah grup dalam aplikasi Whatsapp yang terdiri dari beberapa orang yang cukup dekat. Pada suatu kala datanglah suatu pesan dalam grup ini dari salah satu anggota grup. Sebuah pesan postingan yang cukup menarik. Sebuah pesan yang cukup mengena sebagai bahan renungan kami sebagai masyarakat sosial. Dan kami di grup tidak merasa terganggu dengan isi nya. Hanya saja ada satu bagian dari postingan tersebut yang berkata “tolong sebarkan informasi ini ke semua contacts di hp anda”. Dan saya pikir “eh??? semua contacts? Are you sure?” Itu kan sama aja dengan menyebarkan hoax atau broadcast untuk suatu hal yang gak urgent sifatnya. Ngapain juga nyebar2in message segitu panjang, yang belum tentu disukai oleh orang lain yang ada di contacts HP. Gak salah sih, but it’s something wrong, menurut saya. 

Gak tahan saya untuk menimpali, “kenapa harus ada kata2 ‘tolong sebarkan informasi ini ke semua contacts di hp anda’?” 

dan postingan berikut nya lah yang bikin rasa kesal saya muncul. “gak usah dipikirin lah hal2 kecil itu. Don’t sweat the small stuff”. 

OOO GOD!! HOW CAN THIS PERSON BE SO STUPID!!???

====== ====== ======

Naluri saya sebagai seorang arsitek merasa terusik. Don’t sweat the small stuff adalah kata2 dari tipikal orang yang tidak peduli dengan orang lain, hanya sedikit dedikasinya terhadap pekerjaan nya, dan orientasi yang gak bisa melihat dari sisi pandang yang berbeda. Saya gak bilang saya benar, tapi saya merasa bahwa saya mau berusaha menjadi benar. 

Details, my dear friends, details. The small stuffs, the little things, the minor ones, the invisible, the unknown to common people, the unawared reality, is the saviour for us, but it can also be the disastrous armageddon. 

Kita hidup dengan detail dan “small stuff” sepanjang hidup kita. Melupakan sesuatu secara detail, adalah sebuah mahakarya bencana yang siap menarik kita kedalam kehancuran, kapanpun. Kehilangan sebuah detail, adalah akhir dari upaya memperbaiki dunia yang sudah hancur ini. Kehilangan sebuah detail, akan menjadi sebuah pemborosan besar2an bagi yang memerlukannya.
“hey mister, hidup dengan detail itu maksudnya apa?”

Kadang saya juga menanyakan hal yang sama, apa maksudnya? Saya baru membuat kata2 ini sepuluh menit lalu, dan sepuluh menit berikutnya saya berpikir tentang kata2 saya itu. 

Pernahkah anda berbelanja di suatu pasar swalayan, anggaplah anda membeli sebotol minuman ringan, lalu anda membandingkan berapa banyak isi di leher botol itu yang paling banyak yang akan anda beli? Atau sedang di rak buah2an, anggap lah jeruk, lalu anda memilih mana jeruk yang terbaik menurut anda? Atau sedang di sebuah kulkas eskrim, lalu anda memilih salah satu eskrim untuk anda beli? Atau sedang membeli baju, lalu melihat seberapa rapi jahitan yang ada di baju itu? Atau sedang naik bis kota, lalu memilih dimana bangku yang paling enak? Pernahkan memperhatikan berapa lama waktu yang digunakan para wanita untuk melihat sebuah model baju yang menurut mereka menarik.

Anda sedang memperhatikan detail, wahai Saudara! Seberapa banyak pun isi botol minuman, ada jumlah minimal yang sudah tertera di label nya. Bagaimana pun bentuknya, tetaplah jeruk itu menjadi jeruk. Dan eskrim, yakin lah bahwa semua eskrim itu rasanya sama untuk tipe yang sama. Dan jahitan baju tidak akan terlihat oleh orang yang melihat anda. Dan bangku bis kota yang manapun, selama anda membayar ongkos nya, anda akan tiba di tempat tujuan. Tapi karena itu semua, detail menjadi penting.

Jadi nasehat saya, untuk saya dan juga untuk anda yang membaca tulisan ini, perhatikanlah detail2 itu sampai hal yang terkecil nya. Dengan memperhatikan detail berarti kita menghormati orang yang menggunakan hasil pekerjaan kita. 

The God is the Details, or The Devil is the Details.





 

Thursday, October 22, 2015

catatan dari si laptop merah

hari ini saya belajar sesuatu. yah, sesuatu. sesuatu yang mungkin hanya sedikit orang yang bisa mengerti. sesuatu yang mungkin menurut saya hanya saya yang bisa mengerti. paling tidak, itu menurut saya. karena saya tau, banyak orang yang telah mengerti jauh lebih cepat dari saya, dan jauh lebih banyak dari saya. 

saya menulis kali ini dengan gaya menulis yang sangat dipengaruhi oleh seoran arsitek seniior yang saya kenal. tidak perlu lah tulis nama nya disini. yang pasti beliau arsitek yang cukup saya kagumi, dengan segala kenyelenehan nya dan segala eksentrisitas nya. 

saya juga menulis ini dipengaruhi oleh seorang arsitek senior yang kini menjabat sebagai manajer saya. wow. itu yang saya rasakan dari beliau. 

saya menulis ini sebelum saya lupa, pengetahuan apa yg saya dapat hari ini. sampai-sampai saya menahan diri untuk tidak bersegera memeluk bantal dan guling dan menarik selimut menghangatkan diri dari AC yang dingin. 

hari ini saya belajar tentang rasa malu. 

rasa malu sebagai seorang arsitek yang meremehkan segala sesuatu yang dikerjakan. rasa malu sebagai seorang yang dipercaya mampu untuk membuat perubahan demi kepuasan konsumen, tapi hanya bertindak setengah hati melaksanakannya. 

rasa malu melihat "oh, hanya segini saja kerjaan nya?". padahal saya yakin saya dibayar cukup mahal untuk bisa membuat perubahan dalam bidang ekrja saya. saya yakin saya dibayar cukup mahal untuk mengeluarkan seluruh kemampuan saya yang saya miliki untuk kemajuan perusahaan ini. dan saya yakin saya dibayar cukup mahal, untuk membuat sesuatu yang berbeda, yang memiliki nilai tinggi, untuk saya dan orang lain. 

terus terang, saya malu.

saya malu dengan semua kebobrokan yang saya ketahui. saya malu dengan semua hasil yang saya lakukan setengah hati. dan saya malu saat saya menyadari bahwa usaha kerja keras saya ternyata masih belum cukup membuat sesuatu yang berarti. 

tapi saya menyadari, malu itu bagus. malu itu berharga. malu itu mampu mendorong saya untuk menjadi lebih baik lagi. malu itu membuat rasa ketidakpuasan akan sesuatu hal itu menjadi lebih tinggi standar nya. malu itu lebih baik dari pada sombong dan berpuas diri. malu itu lebih bagus daripada tidak punya malu. 

saya menyadari pekerjaan ini berat. berpuluh-puluh proyek datang ke saya dengan keinginan yang sama, dan saya malu jika tidak bisa membawa mereka ke arah yg lebih baik. 

saya bekerja di salah satu perusahaan developer terbesar di indonesia. mungkin terbesar di asia. 

tapi saya bangga, karena saya masih memiliki urat malu. tapi saya merasa malu, jika saat ini saya merasa berbangga diri. 


Jakarta, 22 Oktober 2015.

Sunday, December 23, 2012

posting baru (tumbeeennnn...)

Entah kenapa gw suka sekali pakai font ini yg namanya Courier. Mungkin karena bentuknya yg mirip dengan mesin tulisan mesi ketik kali ya?

cuma kali ini kayaknya gw ga nulis banyak, cuma pengen update aja sekali2..

done, 

lets get to lunch...

Wednesday, December 23, 2009

Pertapa yang Memetik Bintang

Alkisah pada suatu masa hiduplah seorang pertapa. Tapi jangan kau anggap bahwa pertapa itu selalu digambarkan sebagai lelaki tua keriput yang berjalan tertatih-tatih sambil bertumpu pada sebatang kayu lapuk. Bayangkan seorang anak laki-laki yang masih muda, bersih, dan meskipun tidak terlalu tampan, tetapi wajahnya menggambarkan kepandaian yang mungkin tak akan kau temukan di tempat lain. Anak yang masih terlihat bersemangat saat pagi hari kau melihatnya bermandikan cahaya matahari. Jika kau bisa membayangkan itu, maka kau sudah mengerti apa yang aku maksudkan.

Kisah ini dimulai saat sang pertapa masih berusia amat belia. Di duniamu, mungkin masih berusia seumur jagung, sangat muda. Dia selalu suka bermain, berlarian kesana-kemari, melompat, terjatuh, berguling, dan bahkan berkubang diantara genangan-genangan air berlumpur diantara semak-semak. Dan kemudian cerita ini mulai berlanjut.

Beberapa tahun kemudian, sang pertapa mulai menginjak masa remaja. Wajahnya mulai mengeras. Pipinya mulai terlihat berkotak-kotak. Tubuhnya meninggi, tangannya pun mulai memperlihatkan otot-otot yang lebih dewasa.

Kau mungkin sempat terbersit dalam pikiranmu, mengapa dia tidak bersama dengan anak-anak atau remaja lain seusianya? Apakah dia tidak suka bergaul? Atau dijauhi oleh teman-temannya?

Tidak. Dia tidak lakukan itu semua. Dan teman-temannya pun tidak melakukan itu semua. Karena dalam dunia sang pertapa, dia hanya sendirian. Tidak ada orang lain dalam dunia itu. Pohon-pohon rimbun tumbuh disekitar sang pertapa. Burung-burung berkicau menyambut pagi, setiap kali matahari terbit di ujung timur. Tapi dia hanya sendirian. Tak ada satu orangpun yang ada selain sang pertapa dalam dunia itu. Dan meskipun dia menyadarinya, dia tidak mengeluh, bahkan dia merasa kebaikan dunia semua berada di pihaknya. Tidak ada sesuatupun yang bernama keburukan tinggal di dunia itu. Itulah sebabnya sang pertapa selalu tersenyum. Selalu merasa bahagia, dengan semua yang ada yang dia miliki. Paling tidak, sampai cerita ini mulai berlanjut kembali.

Itulah pada suatu saat, ketika ia sedang duduk sendiri diatas bukit rendah tempat dia biasa merenung. Suasana yang gelap, dan kau pasti tau saat itu hari sudah malam. Bulan bercahaya temaram, memantulkan kembali cahaya siang yang didapatnya sehari sebelumnya. Redup, tapi membuat hatimu merasa bahagia saat bermandikan cahayanya.

Dia menunggu di puncak bukit itu sambil berbaring. Menunggu akan datangnya hari esok, sama seperti hari-hari sebelumnya dia menunggu hari-hari yang akan datang di keesokan harinya. Sama seperti dia di malam-malam sebelumnya menunggu datangnya fajar di penghujung malam itu. Dia menunggu, dan menunggu. Tidak ada rasa bosannya untuk terus menunggu seperti itu. Baginya malam itu dan malam-malam sebelumnya, serta malam-malam berikutnya adalah malam yang terindah dalam hidupnya. Berbaring diatas rumput yang sejuk dan empuk, menatap langit bertabur bintang di atas kepalanya. Lalu kemudian dia berpikir, alangkah indahnya bintang-bintang itu. Dan dia berpikir lagi, bahwa bintang-bintang itu begitu indah, dan dia ingin memilikinya. Mungkin satu saja. Atau mungkin dua. Atau tiga. Atau empat. Atau banyak, seraup saja dengan beberapa bintang. Atau semuanya saja sekaligus. Atau satu saja, dan setelah ia puas bermain-main dengan bintang itu, dia akan lemparkan si bintang kembali ke langit, dan diambilnya satu lagi untuk bermain-main dengannya. Begitu banyak pikiran yang muncul dikepalanya. Begitu banyak ide dan imajinasinya bermain bersama bintang-bintang itu.

Dan disitulah dia. Satu bintang yang mampu menarik perhatiannya. Entah kenapa perasannya tertuju pada satu bintang itu. Begitu banyak bintang yang bertaburan, bintang-bintang yang indah, cemerlang, berwarna-warni, bersiul, bernyanyi dengan suara yang merdu, begitru merdu sampai kau tidak akan mau mendengar suar lainnya ditelingamu. Tapi persaannya tertuju pada satu bintang yang kecil itu. Sebuah bintang yang kusam, tidak menarik perhatian, bahkan cahayanya pun redup tidak menerangi sekitarnya. Untuk sesaat dia merasa ragu, apakah benar inilah bintang yang dia inginkan untuk bermain bersamanya, tapi saat itulah mulutnya berbicara, “Wahai bintang, maukah kau turun dan bermain bersamaku?”. Dan dengan wajah sedikit terkejut dia mendengar sang bintang menjawab, “Ya, aku mau bermain bersamamu”. Dan si bintang kecil pun turun perlahan mendekati sang pertapa, dan dia meraih bintang kecil yang kusam itu dengan tangannya yang lembut. Dia sentuh dengan halus, perlahan bagai menyentuh selapis embun yang harus dijaga agar tidak pecah.

Perlahan dia memegang si bintang kecil itu ditangannya. Kembali rasa ragu membayangi pikirannya, rasa sesal menyambangi setiap detik berikutnya, tapi pada saat yang sama, dia merasakan, bahwa si bintang kecil yang kusam itu membawa hatinya pada rasa tenang yang amat sangat. Ada kehangatan yang memancar dari cahaya yang redup itu. Meskipun hanya bintang kecil yang kusam, tapi kehangatan dan ketenangan yang dibawanya membuat sang pertapa merasa yakin, itulah bintang yang baik untuk diajaknya bermain.
Dan sang pertapa pun mulai bermain dengan si bintang kecil yang kusam itu. Seringkali keeragu-raguannya kembali dan membayangi pikiranya. Tapi saat itu pula kehangatan si bintang kecil menyelimutinya dan keraguan itupun hilang tersapu dengan ketenangan si bintang kecil.

Dan waktu pun berlalu. Bergulir seperti bola salju di lereng bukit. Sang pertapa tetap menyukai permainan-permainan yang dimainkannya bersam si bintang kecil. Dan meskipun ada waktu-waktu dimana salah satunya merasa bosan dengan satu permainan, mereka akan beristirahat. Sejenak saja, sebelum mereka memulai kembali dengan permainan yang baru, atau mungkin hanya melanjutkan dari permainan yang mereka mainkan sebelumnya. Sampai sang pertapa mulai menjadi lebih dewasa, dan bintang kecil yang kusam itu tetaplah menjadi bintang kecil yang kusam, namun masih penuh dengan kehangatan dan kenyamanan yang diberikannya untuk sang pertapa.

Hingga suatu saat datang waktunya rasa bosan menyelimuti sang pertapa. Tapi mungkin lebih tepat disebut sebagai rasa lelah, karena dia terus bermain dengan si bintang kecil selama sekian waktu lamanya. Dan sang pertapa merasa ingin mencoba sebuah permainan baru, meskipun belum terpikir olehnya permainan seperti apa yang hendak dimainkannya. Ini terjadi pada suatu malam yang sama seperti malam saat dia bertanya kepada bintang kecil yang kusam, apakah dia mau bermain dengannya. Sama seperti malam-malam sebelumnya, dan sama seperti malam-malam lain sesudahnya. Sama seperti saat dia berbaring menatap langit bertabur bintang yang indah, tapi kali ini dengan sebuah bintang kecil yang kusam ditangannya, yang memancarkan rasa hangat dan nyaman, meskipun si bintang kecil tidak tahu apa yang dipikirkan sang pertapa. Yang dia tahu hanyalah untuk bermain dengan sang pertapa dan memberikan kehangatannya untuk sang pertapa.

Sang pertapa melihat sebuah bintang baru yang besar dan bercahaya cemerlang di satu sisi langit.

Ketika melihat bintang itu, sang pertapa terkesima. Terpesona oleh indahnya si bintang besar yang bercahaya. Lalu dia melihat ke sekeliling bintang itu.

Masih banyak bintang lain yang bertaburan disana. Masih sama speri yang dahulu pernah dilihatnya sebelum dia bermain dengan si bintang kecil yang kusam itu. Bintang-bintang yang lain masih memancarkan cahaya yang berwarna-warni. Masih pula melantunkan suara merdunya dengan indah. Tetapi bintang besar yang bercahaya itu mampu menarik perhatiannya. Cahayanya memberi keceriaan pada bintang-bintang lain disekitarnya. Cahayanya membawa canda tawa dan senyum kebahagiaan bagi langit dan nukit-bukit. Cahanya mempu membuat penasaran hati sang pertapa untuk meraihnya.

“Oh, indahnya bintang itu”, pikir sang pertapa. “Cahayanya bahkan membuat hatiku terasa riang, dan persaanku menari-nari bagaikan daun-daun dihembus angin musim gugur. Dan lihat cahayanya itu, oh, betapa cemerlangnya, betapa bahagianya andaikan aku bisa bermain bersamanya, menari bersamanya, serta menerangi kehidupanku dengan bermandikan cahaya yang cemerlang itu”. Dan dia terus terkesima, bergeming menatap kilauan cahaya si bintang besar yang cemerlang.

Tapi sejenak kemudian sang pertapa mulai menyadari sesuatu. Dia tidak mengenal si bintang besar yang cemerlang itu. Dia hanya melihat bahwa bintang itu begitu indah, begitu cemerlangnya sehingga membuat sang pertapa selalu merasa ceria, bahkan bangga jika bisa bermain dengannya. Tapi dia tidak tahu apakah bintang itu baik untuknya, atau tidak. Apakah bintang itu akan menghangatkannya, atau tidak. Apakah dia akan terus bertahan sebagai bintang besar yang cemerlang, atau tidak. Apakah dia dapat membahagiakan sang pertapa, atau tidak. Ketidakpastian yang membuat sang pertapa ragu-ragu untuk mengajaknya turun untuk bermain bersamanya.

Ditengah-tengah keraguan itu, tiba-tiba terdengar suara bumi yang membisikkan suaranya pada sang pertapa, “tidak apa-apa, ajaklah dia bermain. Biarkan dia bermain bersamamu di atas rumput yang kau injak ini. Aku juga ingin melihat dia bahagia. Aku yakin dia akan bahagia untuk bermain bersamamu. Kau punya dua tangan, dan kau punya hati yang cukup untuk semuanya. Panggillah si bintang besar itu. Aku ingin lihat dia bahagia, sungguh. Aku ingin lihat dia bahagia bersamamu, aku ingin”. Dan bumi pun membisikkan hal yang sama pada si bintang besar, tapi hanya berakhir dengan senyuman si bintang besar yang cemerlang.

Sang pertapa pun tersenyum. Sungguh hatinya ingin bermain dengan si bintang besar itu. Bermain dengan bintang, adalah yang selalu diinginkannya selama ini. Tapi hatinya kini diliputi rasa ragu. Kemudian ia melihat bintang kecil yang kusam ditangannya.
Bintang kecil itu masih sama seperti dulu. Kecil, kusam, namun cahaya kusamnya memberikan kehangatan yang sangat dalam. Dia masih melihat bahwa bintang kecil itu masih ingin bermain dengannya. Keceriaan di wajah bintang kusamnya tetap terlihat walaupun selelah apapun mereka bermain. Kehangatannya masih terasa, bahkan saat setelah sekian lama mereka bersama.

Lalu sang pertapa kembali berpikir,”Apakah mungkin kupanggil saja bintang besar itu? Atau mungkinkah aku lempar lagi bintang kecil ini kembali ke langit untuk bersama dengan kawan-kawannya yang lain? Tapi dengan demikian aku akan kehilangan kehangatan yang selama ini aku dapatkan, digantikan dengan cahaya cemerlang si bintang besar itu. Tapi, apakah bintang besar itu mampu memberikanku kehangatan yang sama seperti yang diberikan si bintang kecil itu untukku? Apakah mungkin si bintang besar itu ternyata hanya memilki cahaya yang cemerlang saja, padahal mungkin dirinya sedingin salju musim dingin? Atau mungkinkah kuajak mereka bermain saja bersamaku? Tapi dengan demikian, apakah si bintang kecil tidak akan merasa malu karena cahayanya kusam dan redup dibandingkan si bintang besar itu? Atau apakah si bintang besar itu yang akan merasa malu jika tidak mampu memberikan kehangatan seperti yang diberikan bintang kecil itu untukku? Atau mungkin malah si bintang kecil yang kan merasa kesal sehingga dia membakar tanganku sebagai balasan atas keinginanku memetik bintang lain? Atau malah mungkin, mungkin malah diriku yang tidak mampu membawa mereka semua manjadi teman bermainku sehingga malah menyusahkan diriku sendiri?”

Dan sang pertapapun hanya bisa berbaring diatas rumput sejuk dan lembut itu, dengan mata yang masih terpesona oleh si bintang besar yang cemerlang, dia hanya bisa berbaring, dalam keragu-raguannya menggapaikan tangannya ke langit, ingin menyentuh bintang besar yang cemerlang itu, tapi lidahnya tak bisa mengajak si bintang besar untuk bermain, karena hatinya masih merasakan kehangatan si bintang kecil yang kusam itu.

Jakarta, Desember 2009, untuk E yang aku cintai selalu

Thursday, June 4, 2009

A Morning's Saga

Let me see... well, it's a fine morning out here at the village...not quite happy, but enough for me to have a very pleasing experience... you see, the trees are already grown now... the building are tall, yet it still not finished...



Kota ini terbangun tepat pukul 6 pagi... saat itulah jalanan mulai bertumpahan dengan mesin, asap, dan suara-suara yang kurang lebih sama tidak menyenangkannya dibanding dengan suara mesin pemootong rumput yang dipakai para petugas kebersihan taman... antara enak, dan tidak enak... tapi yang pasti, aku termasuk dalam salah satu kerumunan orang yang mulai memadati jalanan... itulah saat terlihatlah keburukan-keburukan yang sekilas terlihat biasa di kota ini...



smoke, pollution, and people breaking the law.



bayangkan sebuah jalan dua arah selebar 40 meter yang terbentang sepanjang delapan kilometer... tambahkan gedung-gedung bertingkat di kiri dan kanannya... tambahkan pula trotoar tempat para pejalan kaki berlalu lalang diantara jalan dan gedung-gedung itu... lebarkan sedikit, kurang lebih lima meter untuk setiap jalur trotoar... kemudian letakkan pohon-pohon di tengah-tengah trotoar itu.... jangan terlalu dekat... setiap sepuluh meter saja... ganti pohon-pohon itu dengan bentuk pohon sengon yang kurus-kurus (ya ampun... malu aku bilang pohonnya kurus, sepertinya hanya cari yang murah saja -- yang penting ada "pohon", gitu..)... pohon setinggi tiga meter dengan diameter batang lima belas senti rasanya cukup...



median!... tambahkan juga median di tengah jalannya...jangan disi apa-apa... rumput saja... tapi bolehlah dipasangi lampu-lampu hias ukuran delapan ratus sampai seribu dua ratus watt yang boros listrik, yang menyala sampai siang, dengan bentuk yang aneh-aneh, jelek, tidak beraturan, kacau, abstrak, tidak berseni, yang harga lampunya sendiri mencapai jutaan rupiah, yang membuat perusahaan listrik merugi karena lampu itu menyala terus siang dan malam tanpa ada yang mau mebayar tagihan listriknya, BAH!...(padahal cukup dengan lampu PJU saja rasanya semua orang sudah senang)...



hahhh... sudah jadi jalan kita itu... sekarang waktunya kita tambahkan kehidupan di atasnya... mobil-mobil berbagai merek dengan orang-orang berada didalamnya... biasanya berdasi untuk yang laki-laki, dan cantik bergaun atau berblazer yang seksi untuk para wanitanya... lewatkan pula dijalan itu orang-orang bersepeda motor dengan helmnya yang berwarna-warni... ada yang sendiri, ada yang berboncengan... orang-orang berjalan ditrotoar, sambil menutup hidung karena ada bis besar yang sudah miring, kebanyakan penumpang, berdesak-desakan, berpeluh sebutiran jagung, dan kondektur masih memaksa untuk menambahkan penumpang ke dalam bis yang puenuh sesak itu...



asapnya hitam... jalan yang bersih itu seketika diselimuti asap kendaraan tidak berbudaya itu... hitam, tebal, bahkan rasanya sudah tinggal mati saja jika ada binatang yang menghirup asap itu... sepanjang jalan itu dipenuhi asap hitam... ada pula asap biru dari knalpot-knalpot motor bermesin dua langkah yang suaranya membuat telinga gatal seperti dimasuki lalat atau nyamuk... ada lampu lalu lintas menyala merah, jalan terus1... ada yang berlawanan arah, cuek saja!... ada yang menyalip malang melintang tak karuan, bahkan ada yang berhenti ditegah-tengah jalan!... tapi bis itu dengan santainya tersenyum, bahkan oleh sang kondektur yang serasa bagaikan penguasa di tengah rakyat jelata, masih ditambahkan lagi sampai tak akan dapat kaki berdiri dengan dua telapak didalam bis itu... dibelakangnya, macet tak karus-karuan, tapi tetap sang sopir dan kondektur tenang-tenang saja, bahkan malah marah-marah karena di klakson mobil dibelakangnya!... dunia sudah terbalik....



orang yang salah merasa haknya diinjak-injak... orang yang benar pun tidak digubris oleh siapapun... petugas berwenang yang seharusnya berwibawa, dicemooh oleh semua orang... orang-orang kini menganggap para petugas itu tidak berbeda dengan para "polisi cepek" di setiap putaran jalan... padahal merekalah sekumpulan orang-orang yang dipercaya untuk membawa keteraturan di jalanan... ketegasan yang seharusnya mereka miliki harus dibarengi dengan keinginan kuat, untuk menciptakan wajah jalanan yang rapi dan teratur...



salah satu dari kendaraan itu melintas perlahan-lahan... roda dua berwarna hitam dan kuning yang dirawatnya baik-baik... saat kendaraan disekitarnya berlalu dengan kecepatan tinggi, dia melenggang dengan tenangnya... berhenti saat lampu lalu lintas menyala merah, dan kembali melaju saat lampu menyala hijau... dihindarinya kendaraan-kendaraan besar berasap hitam itu... dijauhinya keinginan untuk lebih dulu sampai dari orang lain... hanya berpikir bagaimana ia sampai di tujuannya dengan selamat, dan kembali pulang untuk beristirahat di rumah... dan tak lama dia pun sampai ke ujung jalan tempat tujuannya... dilepaskannya helm yang dipakainya... jaket pun tak lupa dimasukkan kedalam tas ransel kecil yang dibawanya... ia mencari sebuah wastafel dan mencuci tangannya, melihat betapa kotor debu yang menempel mengotori tangan... kemudian ia duduk di tempat dimana ia bisa duduk sehari-harinya... menghela nafas... dinyalakannya sebuah komputer berwarna hitam diatas meja... kemudian dari pikiran yang coba ditenangkannya, mulailah ia menuliskan sebuah hikayat tentang suatu pagi....



Kemang, awal Juni 2009.