Sunday, December 27, 2015

Detailing

Haaa.. Selamat datang. 

Kali ini saya berpikir kenapa gak mencoba sekali waktu mencoba font yg berbeda. And i turn out to like this font. VERDANA. Like it lah. 

Beberapa hari yang lalu saya membaca sesuatu yang sangat menggelitik pikiran saya. Atau mungkin lebih tepat nya, memancing kekesalan saya akan sesuatu yg ditulis itu. Tulisan yg memancing kekesalan, salah satu sebab nya karena dibuat oleh org yang dekat dengan saya (well, mungkin gak dekat2 banget tapi kenal lah). Dan karena hal itulah, kekesalan saya terasa cukup membuat kepala saya pusing. Tapi itulah mungkin yang disebut hidup bersosialiasi. Banyak macam orang di dunia ini. 5 milyar orang, pastilah ada beberapa yang bisa bikin kesal. 

Semula bermula dari sebuah grup dalam aplikasi Whatsapp yang terdiri dari beberapa orang yang cukup dekat. Pada suatu kala datanglah suatu pesan dalam grup ini dari salah satu anggota grup. Sebuah pesan postingan yang cukup menarik. Sebuah pesan yang cukup mengena sebagai bahan renungan kami sebagai masyarakat sosial. Dan kami di grup tidak merasa terganggu dengan isi nya. Hanya saja ada satu bagian dari postingan tersebut yang berkata “tolong sebarkan informasi ini ke semua contacts di hp anda”. Dan saya pikir “eh??? semua contacts? Are you sure?” Itu kan sama aja dengan menyebarkan hoax atau broadcast untuk suatu hal yang gak urgent sifatnya. Ngapain juga nyebar2in message segitu panjang, yang belum tentu disukai oleh orang lain yang ada di contacts HP. Gak salah sih, but it’s something wrong, menurut saya. 

Gak tahan saya untuk menimpali, “kenapa harus ada kata2 ‘tolong sebarkan informasi ini ke semua contacts di hp anda’?” 

dan postingan berikut nya lah yang bikin rasa kesal saya muncul. “gak usah dipikirin lah hal2 kecil itu. Don’t sweat the small stuff”. 

OOO GOD!! HOW CAN THIS PERSON BE SO STUPID!!???

====== ====== ======

Naluri saya sebagai seorang arsitek merasa terusik. Don’t sweat the small stuff adalah kata2 dari tipikal orang yang tidak peduli dengan orang lain, hanya sedikit dedikasinya terhadap pekerjaan nya, dan orientasi yang gak bisa melihat dari sisi pandang yang berbeda. Saya gak bilang saya benar, tapi saya merasa bahwa saya mau berusaha menjadi benar. 

Details, my dear friends, details. The small stuffs, the little things, the minor ones, the invisible, the unknown to common people, the unawared reality, is the saviour for us, but it can also be the disastrous armageddon. 

Kita hidup dengan detail dan “small stuff” sepanjang hidup kita. Melupakan sesuatu secara detail, adalah sebuah mahakarya bencana yang siap menarik kita kedalam kehancuran, kapanpun. Kehilangan sebuah detail, adalah akhir dari upaya memperbaiki dunia yang sudah hancur ini. Kehilangan sebuah detail, akan menjadi sebuah pemborosan besar2an bagi yang memerlukannya.
“hey mister, hidup dengan detail itu maksudnya apa?”

Kadang saya juga menanyakan hal yang sama, apa maksudnya? Saya baru membuat kata2 ini sepuluh menit lalu, dan sepuluh menit berikutnya saya berpikir tentang kata2 saya itu. 

Pernahkah anda berbelanja di suatu pasar swalayan, anggaplah anda membeli sebotol minuman ringan, lalu anda membandingkan berapa banyak isi di leher botol itu yang paling banyak yang akan anda beli? Atau sedang di rak buah2an, anggap lah jeruk, lalu anda memilih mana jeruk yang terbaik menurut anda? Atau sedang di sebuah kulkas eskrim, lalu anda memilih salah satu eskrim untuk anda beli? Atau sedang membeli baju, lalu melihat seberapa rapi jahitan yang ada di baju itu? Atau sedang naik bis kota, lalu memilih dimana bangku yang paling enak? Pernahkan memperhatikan berapa lama waktu yang digunakan para wanita untuk melihat sebuah model baju yang menurut mereka menarik.

Anda sedang memperhatikan detail, wahai Saudara! Seberapa banyak pun isi botol minuman, ada jumlah minimal yang sudah tertera di label nya. Bagaimana pun bentuknya, tetaplah jeruk itu menjadi jeruk. Dan eskrim, yakin lah bahwa semua eskrim itu rasanya sama untuk tipe yang sama. Dan jahitan baju tidak akan terlihat oleh orang yang melihat anda. Dan bangku bis kota yang manapun, selama anda membayar ongkos nya, anda akan tiba di tempat tujuan. Tapi karena itu semua, detail menjadi penting.

Jadi nasehat saya, untuk saya dan juga untuk anda yang membaca tulisan ini, perhatikanlah detail2 itu sampai hal yang terkecil nya. Dengan memperhatikan detail berarti kita menghormati orang yang menggunakan hasil pekerjaan kita. 

The God is the Details, or The Devil is the Details.





 

Thursday, October 22, 2015

catatan dari si laptop merah

hari ini saya belajar sesuatu. yah, sesuatu. sesuatu yang mungkin hanya sedikit orang yang bisa mengerti. sesuatu yang mungkin menurut saya hanya saya yang bisa mengerti. paling tidak, itu menurut saya. karena saya tau, banyak orang yang telah mengerti jauh lebih cepat dari saya, dan jauh lebih banyak dari saya. 

saya menulis kali ini dengan gaya menulis yang sangat dipengaruhi oleh seoran arsitek seniior yang saya kenal. tidak perlu lah tulis nama nya disini. yang pasti beliau arsitek yang cukup saya kagumi, dengan segala kenyelenehan nya dan segala eksentrisitas nya. 

saya juga menulis ini dipengaruhi oleh seorang arsitek senior yang kini menjabat sebagai manajer saya. wow. itu yang saya rasakan dari beliau. 

saya menulis ini sebelum saya lupa, pengetahuan apa yg saya dapat hari ini. sampai-sampai saya menahan diri untuk tidak bersegera memeluk bantal dan guling dan menarik selimut menghangatkan diri dari AC yang dingin. 

hari ini saya belajar tentang rasa malu. 

rasa malu sebagai seorang arsitek yang meremehkan segala sesuatu yang dikerjakan. rasa malu sebagai seorang yang dipercaya mampu untuk membuat perubahan demi kepuasan konsumen, tapi hanya bertindak setengah hati melaksanakannya. 

rasa malu melihat "oh, hanya segini saja kerjaan nya?". padahal saya yakin saya dibayar cukup mahal untuk bisa membuat perubahan dalam bidang ekrja saya. saya yakin saya dibayar cukup mahal untuk mengeluarkan seluruh kemampuan saya yang saya miliki untuk kemajuan perusahaan ini. dan saya yakin saya dibayar cukup mahal, untuk membuat sesuatu yang berbeda, yang memiliki nilai tinggi, untuk saya dan orang lain. 

terus terang, saya malu.

saya malu dengan semua kebobrokan yang saya ketahui. saya malu dengan semua hasil yang saya lakukan setengah hati. dan saya malu saat saya menyadari bahwa usaha kerja keras saya ternyata masih belum cukup membuat sesuatu yang berarti. 

tapi saya menyadari, malu itu bagus. malu itu berharga. malu itu mampu mendorong saya untuk menjadi lebih baik lagi. malu itu membuat rasa ketidakpuasan akan sesuatu hal itu menjadi lebih tinggi standar nya. malu itu lebih baik dari pada sombong dan berpuas diri. malu itu lebih bagus daripada tidak punya malu. 

saya menyadari pekerjaan ini berat. berpuluh-puluh proyek datang ke saya dengan keinginan yang sama, dan saya malu jika tidak bisa membawa mereka ke arah yg lebih baik. 

saya bekerja di salah satu perusahaan developer terbesar di indonesia. mungkin terbesar di asia. 

tapi saya bangga, karena saya masih memiliki urat malu. tapi saya merasa malu, jika saat ini saya merasa berbangga diri. 


Jakarta, 22 Oktober 2015.