hari ini saya belajar sesuatu. yah, sesuatu. sesuatu yang mungkin hanya sedikit orang yang bisa mengerti. sesuatu yang mungkin menurut saya hanya saya yang bisa mengerti. paling tidak, itu menurut saya. karena saya tau, banyak orang yang telah mengerti jauh lebih cepat dari saya, dan jauh lebih banyak dari saya.
saya menulis kali ini dengan gaya menulis yang sangat dipengaruhi oleh seoran arsitek seniior yang saya kenal. tidak perlu lah tulis nama nya disini. yang pasti beliau arsitek yang cukup saya kagumi, dengan segala kenyelenehan nya dan segala eksentrisitas nya.
saya juga menulis ini dipengaruhi oleh seorang arsitek senior yang kini menjabat sebagai manajer saya. wow. itu yang saya rasakan dari beliau.
saya menulis ini sebelum saya lupa, pengetahuan apa yg saya dapat hari ini. sampai-sampai saya menahan diri untuk tidak bersegera memeluk bantal dan guling dan menarik selimut menghangatkan diri dari AC yang dingin.
hari ini saya belajar tentang rasa malu.
rasa malu sebagai seorang arsitek yang meremehkan segala sesuatu yang dikerjakan. rasa malu sebagai seorang yang dipercaya mampu untuk membuat perubahan demi kepuasan konsumen, tapi hanya bertindak setengah hati melaksanakannya.
rasa malu melihat "oh, hanya segini saja kerjaan nya?". padahal saya yakin saya dibayar cukup mahal untuk bisa membuat perubahan dalam bidang ekrja saya. saya yakin saya dibayar cukup mahal untuk mengeluarkan seluruh kemampuan saya yang saya miliki untuk kemajuan perusahaan ini. dan saya yakin saya dibayar cukup mahal, untuk membuat sesuatu yang berbeda, yang memiliki nilai tinggi, untuk saya dan orang lain.
terus terang, saya malu.
saya malu dengan semua kebobrokan yang saya ketahui. saya malu dengan semua hasil yang saya lakukan setengah hati. dan saya malu saat saya menyadari bahwa usaha kerja keras saya ternyata masih belum cukup membuat sesuatu yang berarti.
tapi saya menyadari, malu itu bagus. malu itu berharga. malu itu mampu mendorong saya untuk menjadi lebih baik lagi. malu itu membuat rasa ketidakpuasan akan sesuatu hal itu menjadi lebih tinggi standar nya. malu itu lebih baik dari pada sombong dan berpuas diri. malu itu lebih bagus daripada tidak punya malu.
saya menyadari pekerjaan ini berat. berpuluh-puluh proyek datang ke saya dengan keinginan yang sama, dan saya malu jika tidak bisa membawa mereka ke arah yg lebih baik.
saya bekerja di salah satu perusahaan developer terbesar di indonesia. mungkin terbesar di asia.
tapi saya bangga, karena saya masih memiliki urat malu. tapi saya merasa malu, jika saat ini saya merasa berbangga diri.
Jakarta, 22 Oktober 2015.
Thursday, October 22, 2015
Subscribe to:
Posts (Atom)
