Kota ini terbangun tepat pukul 6 pagi... saat itulah jalanan mulai bertumpahan dengan mesin, asap, dan suara-suara yang kurang lebih sama tidak menyenangkannya dibanding dengan suara mesin pemootong rumput yang dipakai para petugas kebersihan taman... antara enak, dan tidak enak... tapi yang pasti, aku termasuk dalam salah satu kerumunan orang yang mulai memadati jalanan... itulah saat terlihatlah keburukan-keburukan yang sekilas terlihat biasa di kota ini...
smoke, pollution, and people breaking the law.
bayangkan sebuah jalan dua arah selebar 40 meter yang terbentang sepanjang delapan kilometer... tambahkan gedung-gedung bertingkat di kiri dan kanannya... tambahkan pula trotoar tempat para pejalan kaki berlalu lalang diantara jalan dan gedung-gedung itu... lebarkan sedikit, kurang lebih lima meter untuk setiap jalur trotoar... kemudian letakkan pohon-pohon di tengah-tengah trotoar itu.... jangan terlalu dekat... setiap sepuluh meter saja... ganti pohon-pohon itu dengan bentuk pohon sengon yang kurus-kurus (ya ampun... malu aku bilang pohonnya kurus, sepertinya hanya cari yang murah saja -- yang penting ada "pohon", gitu..)... pohon setinggi tiga meter dengan diameter batang lima belas senti rasanya cukup...
median!... tambahkan juga median di tengah jalannya...jangan disi apa-apa... rumput saja... tapi bolehlah dipasangi lampu-lampu hias ukuran delapan ratus sampai seribu dua ratus watt yang boros listrik, yang menyala sampai siang, dengan bentuk yang aneh-aneh, jelek, tidak beraturan, kacau, abstrak, tidak berseni, yang harga lampunya sendiri mencapai jutaan rupiah, yang membuat perusahaan listrik merugi karena lampu itu menyala terus siang dan malam tanpa ada yang mau mebayar tagihan listriknya, BAH!...(padahal cukup dengan lampu PJU saja rasanya semua orang sudah senang)...
hahhh... sudah jadi jalan kita itu... sekarang waktunya kita tambahkan kehidupan di atasnya... mobil-mobil berbagai merek dengan orang-orang berada didalamnya... biasanya berdasi untuk yang laki-laki, dan cantik bergaun atau berblazer yang seksi untuk para wanitanya... lewatkan pula dijalan itu orang-orang bersepeda motor dengan helmnya yang berwarna-warni... ada yang sendiri, ada yang berboncengan... orang-orang berjalan ditrotoar, sambil menutup hidung karena ada bis besar yang sudah miring, kebanyakan penumpang, berdesak-desakan, berpeluh sebutiran jagung, dan kondektur masih memaksa untuk menambahkan penumpang ke dalam bis yang puenuh sesak itu...
asapnya hitam... jalan yang bersih itu seketika diselimuti asap kendaraan tidak berbudaya itu... hitam, tebal, bahkan rasanya sudah tinggal mati saja jika ada binatang yang menghirup asap itu... sepanjang jalan itu dipenuhi asap hitam... ada pula asap biru dari knalpot-knalpot motor bermesin dua langkah yang suaranya membuat telinga gatal seperti dimasuki lalat atau nyamuk... ada lampu lalu lintas menyala merah, jalan terus1... ada yang berlawanan arah, cuek saja!... ada yang menyalip malang melintang tak karuan, bahkan ada yang berhenti ditegah-tengah jalan!... tapi bis itu dengan santainya tersenyum, bahkan oleh sang kondektur yang serasa bagaikan penguasa di tengah rakyat jelata, masih ditambahkan lagi sampai tak akan dapat kaki berdiri dengan dua telapak didalam bis itu... dibelakangnya, macet tak karus-karuan, tapi tetap sang sopir dan kondektur tenang-tenang saja, bahkan malah marah-marah karena di klakson mobil dibelakangnya!... dunia sudah terbalik....
orang yang salah merasa haknya diinjak-injak... orang yang benar pun tidak digubris oleh siapapun... petugas berwenang yang seharusnya berwibawa, dicemooh oleh semua orang... orang-orang kini menganggap para petugas itu tidak berbeda dengan para "polisi cepek" di setiap putaran jalan... padahal merekalah sekumpulan orang-orang yang dipercaya untuk membawa keteraturan di jalanan... ketegasan yang seharusnya mereka miliki harus dibarengi dengan keinginan kuat, untuk menciptakan wajah jalanan yang rapi dan teratur...
salah satu dari kendaraan itu melintas perlahan-lahan... roda dua berwarna hitam dan kuning yang dirawatnya baik-baik... saat kendaraan disekitarnya berlalu dengan kecepatan tinggi, dia melenggang dengan tenangnya... berhenti saat lampu lalu lintas menyala merah, dan kembali melaju saat lampu menyala hijau... dihindarinya kendaraan-kendaraan besar berasap hitam itu... dijauhinya keinginan untuk lebih dulu sampai dari orang lain... hanya berpikir bagaimana ia sampai di tujuannya dengan selamat, dan kembali pulang untuk beristirahat di rumah... dan tak lama dia pun sampai ke ujung jalan tempat tujuannya... dilepaskannya helm yang dipakainya... jaket pun tak lupa dimasukkan kedalam tas ransel kecil yang dibawanya... ia mencari sebuah wastafel dan mencuci tangannya, melihat betapa kotor debu yang menempel mengotori tangan... kemudian ia duduk di tempat dimana ia bisa duduk sehari-harinya... menghela nafas... dinyalakannya sebuah komputer berwarna hitam diatas meja... kemudian dari pikiran yang coba ditenangkannya, mulailah ia menuliskan sebuah hikayat tentang suatu pagi....
Kemang, awal Juni 2009.

No comments:
Post a Comment